I.LOVE.MY.WAY

marista winanti sutadipraja
Recent Tweets @sutadipraja
Posts I Like
Who I Follow

Resahku tak beralasan jika hatiku bersedia untuk merelakan.
Beristirahatlah jiwa sejenak dari kekhawatiran yang tidak perlu.
Rasakan segarnya udara milik Sang pemilik.
Demi dirimu yang rindu kepasrahan.

Adalah dalam hatiku memaksa untuk segera melunasi hutang rasa.
Aku berdiri dan bergerak menjalani suatu proses.
Proses hidup. Tumbuh dan berkembang. Tidak diam.
“Pkoknya” “Poko’e” adalah seburuk-buruknya pilihan.
Rasaku memaknai bahwa itu terdengar seperti tidak menghargai dan memaknai suatu proses.

Hal yang paling menyedihkan adalah ketika aku tidak menemukan satu katapun yang terlistas dipikarnku.

Rasa yang begitu dramatis mengubah harapan optimis menjadi pesimis.

Aku ikut serta mencicipi apa yang dia, mereka, kalian rasa.

Aku belum seberapa.

Kecewa dan Mengecewakan itu pahit.

Sebenarnya terbuat dari apa hati dia, mereka, kalian??

Pahitku untuk Manisku, Kehilanganku untuk Pertemuanku, Dukaku untuk Sukaku, Sedihku untuk Bahagiaku, Kecewaku untuk Senangku.

Bukankah mereka saling berdampingan?

Bagaimana mungkin kamu begitu mahir berdusta?

Hatimu itu berat untuk kepentinganmu, anak cucumu!

Secantik apapun kamu mengemasnya, tetap saja aku, dia, mereka, kalian lebih tertarik untuk membuka, tidak hanya memandang..

Atau hanya cukup tersenyum sinis..

Gagahnya langkahku, dia, mereka, kalian, membuktikan betapa siapnya kami berdiri menikmati teriknya matahari dan derasnya hujan..

Lidah aku, dia, mereka, kalian lupa dengan rasa pahit karena Tuhan membiasakan rasa itu.

Terimakasih Tuhan.

-Sutadipraja

Siapalah aku tanpa sahabatku.

Aku berdiri, melangkah, merasakan nikmat dunia, meraih cita-cita bersama sahabatku.

Sahabat dan Alam sama pentingnya.

Sahabatku melahirkan banyak kenangan indah, suka dukaku, susah senangku, melebur jadi satu. Menciptakan banyak warna.

Aku belajar melewati susahnya hidup bersama sahabatku. “Hidup saja sudah susah, kalau tidak mau susah jangan hidup.”

Tapi susah itu nikmat.

Sahabatku mengajarkan betapa nikmatnya susah. Susah itu teman, bukan beban.

Tuhanku, betapa berperan penting sahabatku menjadikan aku aku yang sekarang ini.

Tolong Tuhanku, jangan biarkan sahabatku meletakkan dunia dihatinya. Lapangkan dadanya untuk tetap berada dijalanMu Tuhan.

Luruskan arah yang tidak beraturan.

Redam hawa nafsu yang menggebu.

Jaga kami Tuhanku.

-sutadipraja

May 2007

For over a year, thousands of meters of boiling mud has spewed from a hole in the ground in Java, submerging entire villages. What caused it and who is responsible is the subject of a protracted battle.

Somewhere, beneath the sea of boiling mud, is Juwarno’s house and land. He’s one of 9,000 people who lost their home after the mud submerged his village. “I need compensation”, he despairs. “I don’t want to be relocated”. The mud started pouring from a site close to where an exploratory company was digging for gas and two days after an earthquake. Most blame the gas company, claiming the mud lake was caused by “gross negligence” and pointing to a string of errors. But the mining company claims the mud is a “natural disaster” triggered by the earthquake and refuses to accept any responsibility.

Produced by SBS/Dateline

Distributed by Journeyman Pictures

Beautiful Indonesia

beautiful indonesia

Beautiful Indonesia

Beautiful Indonesia

Indonesian Traditional Songs “Mixed”

Aku cinta kamu eso momentos de mi juventud donde conoci muchos amigos Indoneses